Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kimia kelas XI’ Category

KOLOID

 

A. Koloid

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid tersebar merata dalam zat lain. Ukuran koloid berkisar antara 1-100 nm ( 10-7 – 10-5 cm ).
Contoh:
Mayones dan cat, mayones adalah campuran homogen di air dan minyak dan cat adalah campuran homogen zat padat dan zat cair.

Perbedaan larutan sejati, sistem koloid, dan suspensi kasar.
Keterangan:
1. Larutan sejati
2. Sistem koloid
3. Suspensi Kasar

Jumlah fase
1. 1
2. 2
3. 2
Distribusi partikel
1. Homogen
2. Heterogen
3. Heterogen
Ukuran partikel
1. <10-7>10-5cm
Penyaringan
1. Tidak dapat disaring
2. Tidak dapat disaring, kecuali dengan penyaring ultra
3. Dapat disaring
Kestabilan
1. Stabil, tidak memisah
2. Stabil, tidak memisah
3. Tidak stabil, memisah
Contoh
1. Larutan gula, larutan garam, Udara bersih
2. Tepung kanji dalam air, Mayones, Debu di udara
3. Campuran pasir dan air, Sel darah merah dan plasma putih dalam plasma darah.

Jenis – jenis koloid

1. Sol (fase terdispersi padat)
a. Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat
Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam
b. Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair
Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat
c. Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas
Contoh: debu di udara, asap pembakaran

2. Emulsi (fase terdispersi cair)
a. Emulsi padat adalah emulsi dalam medium pendispersi padat
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi
b. Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair
Contoh: susu, mayones, krim tangan
c. Emulsi gas adalah emulsi dalam medium pendispersi gas
Contoh: hairspray dan obat nyamuk

3. BUIH (fase terdispersi gas)
a. Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat
Contoh: Batu apung, marshmallow, karet busa, Styrofoam
b. Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair
Contoh: putih telur yang dikocok, busa sabun
– Untuk pengelompokan buih, jika fase terdispersi dan medium pendispersi sama-sama berupa gas, campurannya tergolong larutan

SIFAT-SIFAT KOLOID SOL

a. Efek Tyndall
Sifat pengahamburan cahaya oleh koloid di temukan oleh John Tyndall, oleh karena itu sifat ini dinamakan Tyndall. Efek dari Tyndall digunakan untuk membedakan system koloid dari larutan sejati, contoh dalam kehidupan sehari – hari dapat diamati dari langit yang tampak berwarna biru atau terkandang merah/oranye.
Selain itu contoh lainnya adalah pada koloid kanji dan larutan Na2Cr2O7, maka sinar dihamburkan oleh system koloid tetapi tidak dihamburkan oleh larutan sejati hal ini dapat dilihat terdapat berkas sinar pada larutan. Larutan koloid kanji memiliki partikel-partikel koloid relatif besar untuk dapat menhamburkan sinar dan sebaliknya Na2Cr2O7 memiliki partikel-partikel yang relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi sedikit kecil dan sulit diamati.

b. Gerak Brown
Dibawah mikroskop ultra, partikel koloid akan tampak sebagai titik cahaya. Jika pergerakan titik cahaya atau partikel tersebut diikuti, partikel itu bergerak terus-menerus dengan gerakan zigzag. Hal ini pertama kali diamati oleh Robert Brown (1773-1858), seorang ahli botani inggris pada tahun 1827. Ia sedang mengamati butiran sari tumbuhan pada permukaan air dean mikroskop. Partikel koloid dalam medium pendispersinya disebut gerak brown.

Bagaimana gerak brown dijelaskan?
Partikel – partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut bersifat acak seperti pada zat cair dan gas. System koloid dengan medium pendipersi zat cair atau gas, partikel-partikel menghasilkan tumbukan. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Partikel koloid cukup kecil, tumbukan cenderung tidak seimbang. Dan menyebabkan perubahan arah partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak brown. Semakin besar ukuran partikel, semakin lambat gerak brown.
Gerak Brown dipengerahui oleh suhu. Semakin tinggi suhu system, koloid, semakin besar energi kinektik yang dimiliki partikel medium. Akibatnya, gerak Brown dari partikel fase terdispersinya semakin cepat. Semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

c. Adsorpsi koloid
Partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka partikel zat cair atau gas akan terakumulasi. Fenomena disebut adsorpsi. Jadi sdsorpsi terkait dengan penyerapan partikel pada permukaan zat. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel pendispersi pada permukaanya. Daya adsorpsi partikel koloid tergolong besar Karenna partikelnya memberikan sesuatu permukaan yang luas. Sifat ini telah digunakan dalam berbagai proses seperti penjernihan air.

d. Muatan koloid sol
Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel koloid. Semua partikel koloid memiliki muatan sejenis (positif dan negatif). Maka terdapat gaya tolak menolak antar partikel koloid. Partikel koloid tidak dapat bergabung sehingga memberikan kestabilan pada sistem koloid. Sistem koloid secara keseluruhan bersifat netral.

Untuk selengkapnya bisa Liat video diatas y…..

Read Full Post »

LARUTAN BUFFER

L A R U T A N   P E N Y A N G G A

»      Larutan penyangga: suatu larutan yang mampu mempertahankan ph pada kisarannya apabila terjadi upayaa untuk menaikkan atau menurunkan ph

»      Ada dua larutan penyangga:

»      Larutan penyangga asam; terdiri dari asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (A), dilambangkan dengan HA/A.

HA(aq) D H+(aq) + A(aq)

Exp        :   CH3COOH/CH3COO-

CH3COOH(aq) D H+(aq) + CH3COO(aq)

»      Larutan penyangga basa; terdiri dari basa lemah (B) dan asam konjugasinya (BH+), dilambangkan dengan B/BH+

B(aq) + H2O(l)  D BH+(aq) + OH(aq)

Exp        :   NH3/NH4+

NH3(aq) + H2O(l)  D NH4H+(aq) + OH(aq)

»      Prinsip kerja larutan penyangga dapat dilihat pada contoh berikut ini:

pH larutan penyangga asam dapat dipertahankan pada kisarannya, bila terjadi penambahan sedikit asam kuat, sedikit basa kuat, dan pengenceran.

»      pH larutan penyangga basa dapat dipertahankan pada kisarannya, bila terjadi penambahan basa kuat, asam kuat, dan pengenceran.

»      Cara membuat larutan penyangga adalah sebagai berikut:

»      Penyangga asam CH3COOH/CH3COO

Asam lemah CH3COOH hanya terurai sebagian kecil sehingga CH3COO- yang terbentuk sedikit sekali. Untuk membuat larutan penyangga ini, konsentrasi CH3COO- harus dinaikkan.

Konsentrasi basa konjugasi CH3COO- dapat dinaikkan dengan cara:

»      Menambahkan garam seperti CH3COONa ke dalam asam lemah CH3COOH

»      Menambahkan basa kuat seperti NaOH ke dalam asam lemah berlebih

»      Penyangga basa NH3/NH4+

Basa lemah NH3 juga terurai sedikit menjadi NH4+. Untuk membentuk larutan penyangga ini, maka konsentrasi ion NH4+ harus dinaikkan.

Konsentrasi asam konjugasi NH4+ dapat dinaikkan dengan cara:

»      Menambahkan garam seperti NH4Cl ke dalam larutan basa lemah

»      Menambahkan asam kuat seperti HCl ke dalam basa lemah berlebih

»      Menentukan pH larutan penyangga

»      pH penyangga asam HA/A- bergantung pada tetapan ionisasi Ka dan perbandingan konsentrasi asam lemah HA dan basa konjugasi A-

——————————————————————————–  1

Di mana:

pKa             = – log Ka

n HA            = jumlah mol asam lemah HA

n A             = jumlah mol basa konjugasi A

»      pH penyangga basa B/BH+ bergantung pada tetapan ionisasi Kb dan perbandingan konsentrasi basa lemah B dan asam konjugasi BH+

——————————————————————————– 2

Di mana:

pKb             = – log Kb

n B              = jumlah mol basa lemah B                           n BH+    = jumlah mol asam konjugasi BH+

Read Full Post »